Eksistensi Santri Dalam Arus Globalisasi
Di tahun 2020 ini Dinas Pendidikan Dayah Aceh kembali mengadakan event Pelatihan Jurnalistik dan Magang Bagi Santri Dayah Se-Aceh yang diselenggarakan di Hermes Palace Hotel. Berita ini disambut antusias oleh seluruh santri dengan sangat antusias mengirimkan karya terbaik mereka untuk menjadi peraih kesempatan emas ini. Setelah menyeleksi ratusan karya yang terkirim panitia hanya memilih 52 peraih nilai tertinggi untuk diberangkatkan ke Banda Aceh sebagai peserta pelatihan. Secara implisit event ini sangat mendorong produktifitas peserta yang terpilih khususnya, dan seluruh santri pada umumnya untuk terus melahirkan karya tulis demi menyongsong kemajuan ilmu pengetahuan, meminimalisir pembodohan dan hoax dengan memanfaatkan segala kemudahan teknologi di era revolusi industri 4.0 ini.
Dengan visi melahirkan penulis-penulis handal dari kalangan santri yang diharapkan bisa mengisi ruang tulis di media nasional maupun internasional, rundown activities pelatihan ini disusun padat dengan harapan bahwa para peserta benar-benar belajar dan paham akan tujuannya mengikuti pelatihan, sehingga dapat berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan agama serta melahirkan solusi-solusi terbaik untuk permasalahan global saat ini melalui karya tulis. Dengan sadar akan tanggung jawab ini maka santri tidak akan berpangku tangan menonton kacau-balaunya zaman ini, tidak akan membiarkan hoax menjadi suatu kebenaran, apalagi saling menghujat di media sosial. Di Indonesia sendiri kaum santri memiliki kredibilitas tinggi di mata masyarakat, masyarakat memandang santri adalah orang yang paham segalanya tentang agama, dengan memiliki kepercayaan tersebut peluang santri untuk memasukkan pengaruh-pengaruh positif sebagai upaya meminimalisir pengaruh negatif terbilang sangat cepat dan mudah, karena santri menguasai mimbar masjid. Namun hal itu tidaklah cukup sebelum santri menguasai media tulis, teknologi dan mampu memberi pengaruh kepada semua kalangan masyarakat. Maka dari itu mereka dituntut untuk mengambil peran dalam men-share ilmu, usulan, kritikan, harapan dan argumen yang bersifat agamis ke media tulis dan melek akan teknologi.
Dewasa ini, santri semestinya harus lebih kritis dan aktif dalam menyimak perubahan dunia, terutama dalam hal jurnalistik, mengingat tidak terhitungnya edaran hoax yang tentunya akan merusak berbagai aspek, juga banyaknya jurnalis-jurnalis yang melanggar kode etik sekalipun mereka telah mengetahuinya. Maka sangat diharapkan santri alumni dari pelatihan ini bisa mengatasi semua permasalahan jurnalistik di masa depan dengan mempelajari kode etik jurnalis, kredible, aktual, kritis, dan mempunyai wawasan mendunia dalam menulis berita.
Dengan mengadakan event ini Dinas Pendidikan Dayah Aceh benar-benar sedang mewujudkan semua hal tersebut agar bisa segera terwujud, dimana santri tidak boleh ketinggalan zaman dan harus bersedia memegang kendali sosial agar tetap dalam koridor Islam. Hal ini dibuktikan dengan akomodasi yang diberikan panitia kepada peserta pelatihan berupa penginapan di Hermes Palace Hotel yang telah diluncurkan sebagai hotel berbintang lima (Serambi Indonesia, 16 agustus 2017). Hal ini dilakukan semata untuk mengapresiasikan pencapaian dari para peserta yang telah terpilih untuk menyatakan bahwa mereka bukanlah sembarang santri, tapi mereka adalah kader-kader yang mempunyai nilai kredibilitas untuk mengembankan tugas-tugas pemuda Islam di masa yang akan datang. Hermes Palace Hotel juga mengajarkan banyak hal terkait penggunaan teknologi modern kepada peserta seperti membuka kunci kamar menggunakan kartu (card). Pengalaman ini adalah sangat penting untuk mempersiapkan santri supaya tidak shock akan inovasi baru dari teknologi yang terus mengalami perubahan.
Berbicara tentang pelajaran, Hermes Palace Hotel tidak hanya sekedar menjadi tempat pelatihan jurnalistik bagi para peserta, juga bukan sekedar hotel yang mengenalkan teknologi modern, tapi lebih dari itu Hermes Palace Hotel mengajarkan arti konsumsi makanan sehat setiap hari, bagaimana makanan sehat sangat mempengaruhi kondisi fisik manusia untuk lebih produktif dan berpikir jernih, karena makanan sehat akan menghasilkan pemikiran yang sehat dan pula fisik yang kuat. Prinsip ini sangat dijaga oleh pihak konsumsi hotel agar kesehatan tamunya terjaga, lebih-lebih tamu yang menginap untuk mengikuti pelatihan, sosialisasi, atau proses belajar lainnya.
Selain itu, pelatihan jurnalistik ini juga sangat menjunjung tinggi kedisiplinan pesertanya, hal ini dipercaya akan membentuk karakter-karakter jurnalis masa depan yang harus selalu on time dalam mengembankan tugasnya, tak bosannya panitia selalu menegaskan tentang perihal kedisiplinan ini di setiap akhir pertemuan dan menjadikannya sebagai poin pernilaian terhadap 25 peserta terbaik untuk dikirim magang setelah penilaian, sistem ini dipandang sangat efektif untuk membangkitkan semangat peserta menjadi yang terbaik.
Sebagai seorang jurnalis selain harus berpengetahuan sempurna terhadap profesi yang sedang digeluti, jurnalis juga harus membangun jaringan pertemanan secara nasional maupun international, hal ini akan memberi banyak keuntungan untuk para jurnalis dalam memperoleh berita secara cepat dan meluas. Karenanya, dalam pelatihan jurnalistik ini para santri dari berbagai daerah di Aceh diharapkan mampu membangun jaringan pertemanan yang baik dan bersinergi untuk visi misi pembangunan dan pengembangan dunia jurnalistik kedepannya, dituntut aktif, menyumbangkan ide dalam diskusi, toleransi dan berkolaborasi. Hal ini tentulah hal yang mudah bagi santri karena santri adalah mereka yang selalu berhadapan dengan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan sosial di dayah mereka masing-masing, karena perbedaan tersebut mereka saling belajar tentang hal baru dari daerah yang berbeda, kaya akan bahasa dan karakter penduduk di masing-masing daerah yang akan memudahkan para jurnalis ketika terjun lapangan dan berhadapan dengan warga sosial nantinya.
Selain Dinas Pendidikan Dayah Aceh yang sedang giat berupaya meningkatkan produktifitas santri, Kementrian Agama (Kemenag) pusat juga telah membekali santri millenial dengan aplikasi yang sangat berguna, dan tentunya modern sebagai media belajar digital santri di seluruh Indonesia. Aplikasi ini diberi nama “isantri” yang merupakan inovasi Kemenag dalam menyediakaan sarana informasi berupa perpustakaan digital (Kompasiana 27 November 2017). Aplikasi ini hadir karena Kemenag memandang bahwa di era yang serba teknologi ini haruslah benar-benar dimanfaatkan untuk aktifitas belajar para santri. Maka dari itu, aplikasi isantri diisi dengan kitab kuning digital dan buku-buku religi untuk memudahkan para santri dan juga masyarakat umum bisa membaca untuk mengembangkan pengetahuan mereka kapan saja dan dimana saja. Dengan mendorong minat santri untuk suka membaca, maka secara tidak langsung santri tersebut juga akan mempunyai ambisi untuk menulis, karena sebagaimana ia suka membaca tulisan orang lain ia pun akan tergerak membuat tulisan yang kelak bisa dibaca oleh orang lain.
Setelah melihat bagaimana santri hari ini benar-benar dipersiapkan untuk kemajuan masa depan, maka besar kemungkinan bahwa Indonesia akan lebih makmur, adil, dan sejahtera di tangan santri di masa yang akan datang, melahirkan jurnalis-jurnalis yang kredible dan beretika, dapat memberikan sumbangsih berharga kepada bangsa dan agama, juga untuk kesejahteraan umat sedunia. Dengan melihat antusias yang luar biasa dari para santri diharapkan akan banyak muncul event-event serupa yang akan melatih skill santri sebagai pemegang tongkat estafet terbaik dalam memimpin kemajuan Indonesia selanjutnya. Maka karena itu, santri haruslah terus dibimbing untuk lebih melek teknologi atau bahkan menjadi ahli dalam teknologi untuk menyongsong performa santri sebagai pendakwah penyeru perdamaian dan kebajikan di bumi pertiwi.
Banda Aceh, 8 Maret 2020
*Tulisan ini telah dimuat di Majalah Umum edisi XXII

Komentar
Posting Komentar