Aku Seno, remaja yang tinggal di pinggiran kota Maju. Hari ini masih musim hujan. Semalam, di ruang makan sekeluarga besar bertepuk tangan gembira sekejap setelah aku meniup dua lilin berbentuk angka empat belas. Bagiku, ini hari baru yang ku paksa seolah-olah indah dan baik-baik saja. Tidak ada sekolah juga tidak ada liburan. Musim hujan yang menyedihkan.
Pagi tadi mentari tidak terlalu bersemangat, aku pun begitu. Awan membentuk tirai tipis yang menyelubungi bumi telah menang dari matahari. Sekarang, aku sedang berjalan sendirian di alun-alun kota, entah ke mana dan untuk apa. Supaya tidak terlihat bodoh, aku pun berlari-lari kecil seolah-olah sedang jogging. inilah manusia selalu tidak ingin terlihat kacau dan bodoh di mata manusia lain.
Di ujung jalan sana terlihat remaja berbondong-bondong memasuki suatu toko yang di dekor a la kekini-kinian. Mereka berlarian lalu berdesak-desakan, beberapa di antara mereka terlihat sepantaran denganku, aku pun mencoba mendekati kerumunan itu, tercium aroma makanan yang begitu menggoda mengalir masuk ke dua lubang hidungku, memerintahkan saraf untuk memejamkan mata supaya aromanya seola-olah nyata, ini benar-benar lezat, belum pernah aku mencium wangi makanan yang seperti ini, wah! Wangi sekali.
Aroma ini terus saja terbang ke dalam hidungku tidak tertahan, kemudian berputar-putar di dalam otakku dan mencoba membentuk beberapa formasi makanan, tapi aku tidak bisa menebaknya dengan jelas. Kuberanikan diri mendekati gadis berambut ikal di bagian belakang kerumunan itu, lantas menyapanya.
"Hei, Ada apa ini? Apa ini toko kuliner baru?" Tanyaku.
"Oh bukan, ini bukan toko kuliner baru kok, ini toko cinta yang telah beroperasi bahkan sejak manusia ada. Namun sekarang cinta tidak lagi diproduksi secara tradisional, cinta telah diproduksi secara modern dengan robot pintar canggih yang kita pelajari di sekolah sebagai Artificial Intelligence. Uniknya, kau bisa melihat langsung proses pembuatan cinta yang telah kau pesan, lantas membayar dan menikmatinya di dalam toko atau di mana pun kau mau," Ia menjelaskan.
"Wah! Ini keren, Aku belum pernah mendengar ini sebelumnya, tapi tentu saja aku akan mencobanya sekarang." Balasku.
"Sudah lima belas tahun begini, aku juga belum pernah mencoba cinta, penasaran lah yang mengantarkan ku kemari," Balasnya.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman, ini musim hujan tubuh kaku, aku kedinginan, jadi aku tidak banyak bicara.
Tibalah giliranku setelah setengah jam berlalu mengantri, aku menekan tombol di meja di sebelah kiri pintu masuk untuk cinta yang akan ku pesan, ternyata itu bukanlah tombol untuk membuat pesanan, tapi tombol untuk mengisi identitas pembeli untuk form yang ditampilkan di monitor. Ah sial! Gadis tadi salah memberikan informasi. Langsung saja kumasukkan data diri berupa alamat, umur, hobi, pendidikan dan lainnya. Setelah selesai, robot pintar itu langsung bekerja, kompornya otomatis menyala dan semua bumbu juga otomatis berjalan sendiri ke dalam wajan, canggih sekali! terlihat sepasang tangan besi menganduk-ngaduk cinta hingga mengeluarkan aroma yang begitu menggugah, menawan semua lidah. Aduhai! Ini sungguh tidak terbayangkan.
Cinta selesai dibuat dalam tiga menit, ini luar biasa! Jaman sungguh canggih. Dulu ketika orang tuaku masih berumur belasan tahun, mereka bilang cinta itu paling cepat dibuat dalam waktu lima belaes menit, karena dulu masih menggunakan kompor minyak tanah.
Cinta otomatis dikeluarkan dari wajan dan dibuat melayang di atas piring putih melalui benang-benang yang halus hingga sampai ke atas meja kasir. Di meja kasir pun tidak ada manusia yang bekerja, hanya sebuah meja berwarna millenium dengan keyboard dan layar petak kecil yang bertulisan tujuh ribu. Kukeluar kan uang dari saku kemeja, mendekatkannya ke mulut meja, lalu meja tersebut menelannya, dan cinta yang telah dibungkus dalam paper
bag siap dibawa pulang. Di perjalanan pulang, aku menyembunyikannya dalam jaket agar tidak basah oleh rintik hujan intensitas sedang, lalu kembali bergegas lari-lari kecil seperti sedang jogging.
Perjalanan pulang masih lumayan jauh. Hujan tampaknya sudah sedikit mengalah, meski matahari belum berani muncul kembali. Rasa lapar kian mencabik perutku sedari mengantri tadi, dan kuputuskan untuk berhenti di taman kota. Setelah menyapu air dengan tangan di bangku taman yang basah, aku duduk dan mengeluarkan cinta dari paper bag kecil dan bersiap-siap melahapnya.
Gigitan pertama. Duh! Kenapa rasanya aneh sekali? Kenapa aroma dan rasanya sama sekali tidak sesuai? Sial! ini makanan terburuk yang pernah memasuki mulutku, rasanya aneh! Pahit! Dan mencabik-cabik bagai memakan serangga yang lantas menyengat lidahku, pahit sekali! Bahan-bahannya semua dimasak setengah matang, jadinya masih keras, warnanya saja yang menarik tapi teksturnya buruk. Tak henti-hentinya aku mencaci mesin robot pintar pembuat cinta itu sambil lidah yang masih terjulur tak kuasa menahan pahit. Setelah meludah beberapa kali rasa pahit ini tak kunjung hilang, duh! Aku harus apa? Ini sungguh pahit, mentah juga iya.
Namun tak lama. Tiga menit berlalu, rasa pahit itu sedikit menghilang, aku menghela napas lega dan kembali duduk di bangku taman. Aku menunduk memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba saja suara siulan datang dari bangku sebelah, aku menoleh, ada laki-laki dewasa yang kutaksir umurnya sekitar dua puluh delapan tahun. Ia mengedipkan mata dan beranjak bangun, berjalan kemari dan kemudian duduk di sampingku. Katanya "Malang kau Nak! Cinta itu memang dijual untuk semua orang, tapi yang akan mendapatkan cinta yang lezat hanya orang-orang dewasa, sebenarnya ini bukan soal rasa, hanya saja cinta belum cocok dengan lidahmu yang masih berumur belasan tahun. Ini persis kejadiannya ketika kau masih bayi, ibumu tidak memberikanmu nasi kan? Kenapa? Karena pencernaanmu belum cocok dengan nasi." aku tertegun, tak kuasa lagi lidahku untuk angkat bicara.
"Dulu, ketika aku seusia kamu Nak, aku juga pernah mengalaminya, lalu kuputuskan untuk berhenti berharap akan cinta yang lezat itu, dan hanya makan makanan pokok saja, toh cinta itu cuma cemilan kan? Pakai micin pula," tegasnya.
Ia melanjutkan. "Sekolah dulu yang rajin Nak! Dari pada membeli cinta seharga tujuh ribu itu, tabung saja uangmu untuk keperluan masa depan mu, ketika kau sukses nanti, belilah cinta yang mahal harganya, tentu rasanya juga enak," lanjutnya.
Ia tiba-tiba saja beranjak bangun dari bangku taman, lalu membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik "Kau paham?"
Komentar
Posting Komentar