Langsung ke konten utama

Bercermin Kepada Nasionalisme Samurah Ibnu Jundab - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

Oleh: Tuhfatul Athal

Nasionalisme dapat diartikan semangat kebersamaan, sikap berjuang mengupayakan apapun demi kemakmuran dan kesejahteraan negeri, mengabadikan identitas, integritas, dan kekuatan bangsa. Sebagaimana negara yang menjadi identitas individu (nationality), agama juga merupakan sebuah identitas yang melekat pada diri seseorang, sehingga semangat kebersamaan dalam beragama juga bisa disebut nasionalisme. Lazimnya, nasionalisme dimanivestasikan dalam bentuk perjuangan, yaitu berperang. Dalam bahasa Arab, perjuangan diistilahkan dengan "جهاد". Maka dari itu, jihad merupakan salah satu bentuk dari nasionalisme.

Pada dasarnya, sifat nasionalisme ini merupakan tuntutan untuk dimiliki oleh segenap jiwa yang menjadi warga sebuah negara. Dalam hal ini, umat beragama. Tidak tertentu pada umur, ras, ataupun daerah. Dengan demikian, maka rasa nasionalisme akan di manifestasi kan dalam berbagai tindakan, para pelajar akan mewujudkan nasionalismenya dengan giat belajar dan terus mengukir prestasi untuk mengharumkan nama bangsa. Entrepreneur akan lebih inovatif dan kreatif dalam produksinya terhadap persaingan ekonomi dengan negara lain. Pemerintah pun akan terus mengupayakan banyak hal demi terwujudnya sistem kepemimpinan indonesia yang semakin maju. Inilah keihlasan nasionalisme, tanpa paksaan.
Jika hal ini benar-benar diwujudkan, maka Indonesia akan semakin kuat dan padu dalam ikatan nasionalisme. 

Sebagai generasi muda, memiliki nasionalisme yang tinggi merupakan keharusan, mengingat generasi muda merupakan pemegang tongkat estafet kepemimpinan negeri ini di sepuluh tahun kemudian. Pembentukan generasi saat ini merupakan suatu upaya untuk membentuk bagaimana Indonesia di masa depan, pembentukan generasi tersebut salah satunya bisa diwujudkan dengan pendidikan yang baik dan maju. Namun, dengan mengatasnamakan indonesia bukan berarti pembentukan generasi sepenuhnya diserahkan tanggungjawabnya kepada pemerintah. Dalam skala menengah pendidikan juga merupakan tanggung jawab orang tua dan dalam skala kecil pendidikan adalah tanggung jawab per individu siswa. Karena mengingat kesuksesan sebuah negeri merupakan akumulasi dari sebuah kesuksesan individu penduduk negeri tersebut.
Belakangan ini, ada banyak pihak yang mengkritik langsung kepada Menteri Pendidikan bahwa sistem pembelajaran daring sangat tidak efektif, tidak memuat nilai pendidikan karakter, bahkan sama sekali tidak mencerdaskan siswa. Sedangkan kita semua sadar bahwa sistem pembelajaran daring merupakan sebuah aturan yang diharuskan untuk yang diharuskan untuk dijalankan karena pandemi Covid-19. Sistem pembelajaran daring merupakan kebijakan yang bijak dari pemerintah sebagai upaya preventif untuk meminimalisir penyebaran covid-19,untuk saat ini. Jadi, disini pemerintah tidak salah dalam menetapkan kebijakan, seharusnya peran orang tua di rumah harus lebih tegas dalam mendidik karakter dan inteligent anaknya sebagai peserta didik dalam memenuhi tuntutan akademik, kesadaran dari pribadi pelajar juga merupakan faktor kesuksesan, dengan kesadaran diri yang dikawal oleh akal, manusia bisa saja menjadi sebaik malaikat dan juga bisa menjadi seburuk hewan, kesadaran belajar dan keinginan untuk terus berkembang akan menjadikan peserta didik fokus terhadap tujuan belajar, sekalipun kurang dukungan dari lingkungan sekitarnya. 
Berdasarkan pernyataan ini, pendidikan karakter sangat dibutuhkan untuk membentuk kesadaran belajar peserta didik apabila berada di luar pengawasan guru dan orangtua. Sekali lagi, pendidikan karakter.

Kembali lagi ke pembahasan, berbicara tentang nasionalisme, mengingatkan kita kepada suatu kisah sesaat sebelum dimulainya perang uhud. Terlihat Rasulullah dengan gagah berdiri di depan barisan yang akan berangkat ke medan jihad, Rasulullah dengan sangat teliti memeriksa semua persiapan perang terlebih dahulu, seperti perlengkapan senjata, bekal, juga termasuk pasukan yang akan diberangkatkan ke medan perang, satu persatu pasukan dicek. Saat itu, Rasulullah menemukan dua bocah yang masih dibawah umur, karena dianggap belum mampu bergabung, Rasulullah menyuruh mereka berdua pulang ke rumah meninggalkan pasukan, keduanya adalah Rafi' Ibnu Khundaij dan Samurah Ibnu Jundab. Namun, setelah selidik demi selidik, Rsulullah memperbolehkan Rafi' untuk kembali ikut ke medan perang, alasannya karena Rafi' merupakan pemanah ulung saat itu. Mendengar temannya telah diperbolehkan kembali mengikuti pasukan ke Uhud, maka Samurah dengan gelisah namun masih dengan semangat juang yang meledak ledak berlari menyusuri padang pasir, dalam gundah ini ia memikirkan segala cara untuk bisa andil dalam perang memperjuangkan Islam. Ia melangkah dalam tangis hingga menghantarkannya ke hadapan ayah angkat untuk mengadu cerita.  
"Wahai ayah, Rasulullah memperbolehkan Rafi' bergabung dalam barisan perang, sedangkan aku tidak, padahal jika aku dan Rafi' diadu, aku yakin bisa lebih unggul dari nya." 
Pengaduan Samurah ini ternyata sampai ke telinga Rasulullah SAW. Segera Rasulullah mengambil tindakan dengan menyuruh Samurah Ibnu Jundab dan Rafi' bergulat. Alhasil, Samurah mengungguli Rafi'. sehingga Samurah diperbolehkan kembali untuk ikut dalam peperangan.

Inilah Samurai Ibnu Jundab, remaja yang merasa tidak terpilih sebagai tentara Allah adalah kekalahan yang hina, merasa kalah saing karena tidak bisa membuat dirinya terpilih sebagai tentara Allah. sehingga iman mendorongnya untuk melakukan usaha lebih demi bisa andil memperjuangkan agama Allah. Tentu karakter yang seperti ini bukanlah karakter yang dihasilkan dari didikan biasa karakter pejuang Samurah adalah karakter yang di tempa sedari Samurah masih belum mengenal apa-apa. Nasionalisme adalah karakter yang mulia.

Wallahu A'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemilau Islam Senantiasa Mengabadi - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

Oleh: Tuhfatul Athal Islam lahir dengan kemuliaan dan ketinggian, senantiasa terus mengabadi hingga zaman menjumpai akhir. Jejaknya dari masa Rasulullah SAW, lalu sahabat, filsuf-filsuf Islam dari masa ke masa terus saja memegang kuat tongkat estafet kemuliaan Islam, mempertahan kannya hingga sekarang, sehingga Islam terus mengabdi dalam kemilau kemuliaan. Betapa banyak teknik-teknik perang yang Rasulullah wariskan hingga menjadi taktik perang modern yang masih dipakai hingga saat ini, strategi bisnis, manajemen hidup, obat-obatan, leadership skill , ilmu bisnis dan masih banyak lagi cikal bakal yang bersumber dari Rasulullah yang menjadi pedoman ilmu pengetahuan modern saat ini. Hadirnya Islam yang dibawa oleh kepribadian agung yang mulia Nabi Muhammad SAW benar-benar menjadi lentera penerang sepanjang zaman, gerbang menuju kejayaan yang gemilang, agama yang mampu membuka mata dunia. Saat perhitungan waris dan perhitungan zakat begitu rumit dengan angka Romawi, lahirlah an...

Eksistensi Santri Dalam Arus Globalisasi - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

 Eksistensi Santri Dalam Arus Globalisasi        Di tahun 2020 ini Dinas Pendidikan Dayah Aceh kembali mengadakan event Pelatihan Jurnalistik dan Magang Bagi Santri Dayah Se-Aceh yang diselenggarakan di Hermes Palace Hotel. Berita ini disambut antusias oleh seluruh santri dengan sangat antusias mengirimkan karya terbaik mereka untuk menjadi peraih kesempatan emas ini. Setelah menyeleksi ratusan karya yang terkirim panitia hanya memilih 52 peraih nilai tertinggi untuk diberangkatkan ke Banda Aceh sebagai peserta pelatihan. Secara implisit event ini sangat mendorong produktifitas peserta yang terpilih khususnya, dan seluruh santri pada umumnya untuk terus melahirkan karya tulis demi menyongsong kemajuan ilmu pengetahuan, meminimalisir pembodohan dan hoax dengan memanfaatkan segala kemudahan teknologi di era revolusi industri 4.0 ini.         Dengan visi melahirkan penulis-penulis handal dari kalangan santri yang diharapkan bisa mengisi ruang tu...