Iga duduk di dunianya, bersila menghadap hamparan birunya laut dimana angin timur berhembus. Ia sibuk memencet-mencet tombol gameboard jadulnya. Jadul, tapi tetap mengasyikkan. Perempuan, tapi gamers handal.
Enil dari dunianya, laki-laki dingin. Sering berkunjung ke pantai itu, namun kali ini ia berani sekali mengganggu Iga. Ditariknya gameboard Iga, lantas berlari ke dalam gulungan ombak. "Sial! Kembalikan gameboardku," teriak Iga sambil lari.
"Sini, ambil kalau bisa," Enil mengejek seolah tak terkejar.
Jauh berlari. Tanpa tersadar, Enil telah memasuki batas wilayahnya kembali, diikuti Iga, karena ia harus mengambil gameboardnya sebelum petang, lalu pulang. Apapun yang terjadi.
Sedang-sedang Iga mengejar, langkahnya terhenti, lalu tersadar bahwa itu bukan lagi dunianya, itu dunia lain. Tapi dunia itu indah sekali, lebih indah dari dunianya. Namun, ia tak boleh lama-lama terkagum, itu dunia lain dan ia harus mendapatkan gameboardnya. Ia terkagum-kagum sambil berlari.
Enil di depannya tak lagi berlari sekencang tadi, Iga berhasil menyusul dan merebut kembali gameboardnya sambil berlari. Reflek. Ia memukul bahu Enil dengan benda keras itu. Enil memerah seketika.
"Pergi kau dari dunia ku! Pergi!" teriak Enil. "Kau tak pantas menginjak kaki jelekmu itu di dunia ku, pergi!" ia membentak.
Iga berbalik arah, berlari sambil menyeka butiran bening di pipinya. Tapi Iga tidak mau pulang lagi, sepoi di dunia yang ini sungguh menawarkan kenyamanan. Iga ingin menetap lama di dunia yang ini. Orang yang dikenalnya di sini hanyalah Enil, namun Enil telah membencinya.
"Aku tidak mau pulang!" ia meraung dalam gelap, air mata, kecewa, menyesal, dan senja yang baru saja hilang.
Komentar
Posting Komentar