Langsung ke konten utama

Masa Depan Minta Tolong - Rumah Senja | Tuhfatul Athal


Sekawanan gadis-gadis remaja yang menyandang kitab suci itu melangkah pasti di jalan desa yang diapit sawah-sawah. Terdengar bunyi sandal jepit dan ujung sarung yang memukul-mukul. Sesekali terdengar candaan ringan di dalam sekawanan itu, saling menggoda, juga sesekali pujian kagum terhadap langit senja di sepanjang jalan.

Jalanan mulai lengang, hanya ada sekawanan gadis remaja itu yang berjalan mulai cepat seolah bergegas mengejar mentari senja ke ufuk barat. "Ayo cepat! Nanti gerbang balai pengajian ditutup," sela Dara, gadis remaja yang selalu saja terlihat menunduk kapanpun, dan dimanapun ia. 
"Hei Dara! Lihatlah semburat senja yang kemerah-merahan itu, indah sekali! Lihatlah!" ujar Asma dengan sumringah senyum sembari menunjuk ke ufuk barat. Dara tak berujar, dilihatnya sekilas semburat kemerah-merahan itu, lantas seketika kembali menunduk. Tapi Asma memang benar, senja hari ini memang benar-benar indah. Ia mendongakkan kepala seketika, dipandangnya lamat-lamat detik-detik senja menghilang membawa serta cahaya kemerah-merahan.
Tapi kali ini, Dara tidak melihat indah yang tersirat di ruas-ruas cahaya senja seperti yang ia lihat sekilas tadi, ia melihat ufuk barat yang telah berubah menjadi kelam, hitam, propaganda meraja lela, kekejaman yang tidak manusiawi. Ia juga mencium bau amis darah yang menerpa lubang hidungnya,  telinganya sayup-sayup mendengar jeritan-jeritan lemah. Seketika ia memejamkan mata, menutup telinga dan menekannya kuat-kuat dengan dua telapak tangannya, lantas kembali menunduk, jantungnya berdegup kencang dan tenaganya terasa terkuras.

Pun begitu setelah pengajian usai, Dara bergegas pulang, ia hanya menunduk, fokus ke tiap-tiap langkah yang diayunnya. Sesampainya di rumah, lalu bergegas menuju kamar, begitulah setiap malam. Dara sudah sangat terbiasa dengan keadaan seperti ini sejak mulai mengerti terhadap apa yang dilihatnya dari dunia ini. Dunia yang begitu transparan, dan baginya menjadi introvert adalah pilihan, sehingga sahabatnya adalah jendela kamar, buku, dan komputer jadul berwarna putih. 

Malam itu Dara berdiri di depan cermin, hanya ingin memastikan apakah ada sesuatu di matanya yang menyebabkan ia kelilipan sedari masuk rumah tadi? Namun dari dalam cermin kamar terasa bergoyang dan berputar-putar, semakin lama semakin cepat tapi kenyataannya tidak, hanya di dalam cermin. Dari dalam cermin seketika sudut-sudut kamarnya berubah perlahan menjadi suatu tempat yang tidak ia kenali. Muncullah seorang laki-laki paruh baya memegang pisau dan mendorong seorang gadis hingga jatuh tersungkur, mulutnya diikat dengan sapu tangan merah, kedua tangannya diinjak oleh laki-laki itu dengan sepatu bot, sehingga ia hanya terlentang tak berdaya, laki-laki itu berkata pelan sambil mengibas-ngibas pisau di lehernya,  "Menyerahlah kepadaku, atau nyawamu berakhir dengan membuat pisau ini menjadi merah." gadis itu hanya menangis dan menjerit-jerit, urat-urat lehernya tegang, memerah, mengisyaratkan bahwa gadis itu benar-benar berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk melawan, namun sia-sia.


Dara yang berdiri di depan cermin mulai gemetar, keringat bercucuran, ngeri yang membuatnya menangis. Ia mundur perlahan menjauhi cermin lalu menangis memeluk lutut di pojok kamar, begitu gambar di dalam cermin hilang seketika muncullah suara-suara lembut seorang perempuan "Kau Dara, kukatakan padamu, bahwa perempuan tidak selemah yang kau lihat itu, ada kekuatan yang telah dibunuh mati, namun mati suri, sudah lama sekali, sehingga orang-orang lupa bahwa perempuan adalah sosok yang punya kekuatan. Kelak perempuan hanya seharga nasi bungkus di warung depan rumahmu. Miris, saat itu kau tidak lagi melihat perempuan penuh warna, mereka berubah menjadi suram, muram. Maka, perjuangkan hak kaummu, rebut kembali keluhuran, kesucian, dan kemuliaan yang mati suri." suara itu perlahan menghilang. 

Dara kembali lagi ke depan cermin, mematung di sana menatap lamat-lamat bayangan dimensi wajahnya sendiri. "Apakah ini masa depan?" tanya kepada bayangan dalam cermin, lantas berbalik menuju meja belajar disudut kamar, diraihnya buku bersampul hitam, buku yang berisi master plannya untuk sepuluh tahun kedepan. Ia menulis sesuatu, sesuatu yang akan dilakukannya untuk mengubah masa depan.

Seminggu berlalu sejak kejadian malam itu, Dara lebih sering menyendiri di pojok-pojok perpustakaan sekolah, menyisir halaman-halaman buku, mencatat yang pelu dicatat, juga menghafal beberapa yang perlu dihafal, ia juga mulai giat menyuarakan opini-opini di blognya yang sudah lama dihuni lama-lama. Ia membagi fokus dengan adil untuk pelajaran sekolah dan pengajian malam, mungkin itu yang ditulis Dara di dalam buku hitamnya malam itu. 

Tepat jam 3 sore Dara melangkah keluar perpustakaan, melewati gerbang sekolah, lalu belok kiri menuju jalan yang biasanya ditempuh untuk sampai ke rumah. Di perjalanan pulang orang-orang tampak tidak seperti biasanya. Kenapa jalanan ini begitu cepat berubah, di mana Bu Suwaibah yang dulu menjual bakso di seberang jalan sana, kenapa tokonya berubah menjadi kasino yang dipenuhi wanita-wanita bergoyang dengan pakaian minim, toko yang menjual jus tempat langganannya sepulang sekolah juga telah menjadi bar yang padat pengunjungnya, gedung-gedung toko yang dulu hanya dua lantai kini telah menjulang tinggi menjadi gedung puluhan lantai. Bukankah ini hanya pasar desa, tapi kenapa telah berubah menjadi kota besar. Celakanya, ia tidak lagi mencium semerbak syariat di sini, wewangian nilai dan moral, aroma budi, semuanya lenyap, yang ada hanya suara-suara sorak-sorai kebebasan liar, angin-angin yang dulu lembut kini terasa menusuk. Ia tertegun, jantungnya berdegup kencang. 

Dara, gadis remaja yang bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa melihatnya.

Inilah masa depan, gumamnya. Masa depan di mana agama, nilai dan moral dipertaruhkan. Ia menutup mata lama sekali, telinganya pun di tekan dengan kedua tangannya kuat-kuat, agar tak ada suara-suara aneh yang masuk. Lantas dibuka lagi matanya, lalu berlari pulang dengan jantung yang masih berdegup kencang. 

Dara, hidup dalam keadaan yang tidak pernah diminta. Ya, memang semua orang tidak pernah meminta hidupnya akan jadi seperti apa. Namun Dara, menerima dan menjalaninya dengan baik, dengan sebuah pertanggung jawaban. Ya, bertanggung jawab akan takdir dalam hidupnya. Karena ia bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa melihatnya.

Sesampainya di rumah, Dara kembali membuka buku hitam, menulis apa yang mesti dilakukan di masa depan untuk memperbaiki keadaan, di tariknya nafas dalam-dalam dan mulai menulis tentang masa depan. Apa yang harus dipelajari, apa yang harus dicapai, kemana ia akan pergi, siapa yang akan dilibatkan dalam perjalanan ini, di mana ia akan memulai, kapan ia harus memula. Sebuah peta perjalanan masa depan. Dara melakukannya dan baru saja memulai perjalanannya. Memulai untuk menjadikan masa depan lebih baik. Kamu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemilau Islam Senantiasa Mengabadi - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

Oleh: Tuhfatul Athal Islam lahir dengan kemuliaan dan ketinggian, senantiasa terus mengabadi hingga zaman menjumpai akhir. Jejaknya dari masa Rasulullah SAW, lalu sahabat, filsuf-filsuf Islam dari masa ke masa terus saja memegang kuat tongkat estafet kemuliaan Islam, mempertahan kannya hingga sekarang, sehingga Islam terus mengabdi dalam kemilau kemuliaan. Betapa banyak teknik-teknik perang yang Rasulullah wariskan hingga menjadi taktik perang modern yang masih dipakai hingga saat ini, strategi bisnis, manajemen hidup, obat-obatan, leadership skill , ilmu bisnis dan masih banyak lagi cikal bakal yang bersumber dari Rasulullah yang menjadi pedoman ilmu pengetahuan modern saat ini. Hadirnya Islam yang dibawa oleh kepribadian agung yang mulia Nabi Muhammad SAW benar-benar menjadi lentera penerang sepanjang zaman, gerbang menuju kejayaan yang gemilang, agama yang mampu membuka mata dunia. Saat perhitungan waris dan perhitungan zakat begitu rumit dengan angka Romawi, lahirlah an...

Kartini's Day and Equality Gender - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

Oleh: Tuhfatul Athal Selamat malam semua, selamat Hari Kartini untuk seluruh perempuan Indonesia. Kartini merupakan sosok pahlawan perempuan yang telah membuka mata seluruh masyarakat Indonesia bahwa perempuan bisa andil dalam merajut sejarah negerinya dengan berbagai cara. Hal ini tertuang dalam perkataan Ibu Kartini “Kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan.” Kartini telah mendeklarasikan kepada seluruh masyarakat Indonesia dan dunia seperti apa jati diri perempuan hebat yang sebenarnya. Terimakasih Ibu Kartini.  Ketika perempuan mulai menentukan masa depan, hal itu tidak melulu soal dirinya sendiri, dalam menentukan masa depan, jika perempuan itu sebagai kakak ia bisa menentukan arah perkembangan adiknya, jika seorang ibu ia bisa menentukan arah perkembangan putra-putrinya, karena masa depan orang-orang yang berhubungan dengan dirinya juga merupakan masa depannya. Dalam memperjuangkan, perempuan tidak harus menjadi pemimpin, karena sejatinya bukan...

Senja dan Awan

Senja bukanlah senja jika ia belum jatuh melesat perlahan mendekat ke garis bumi yang katanya melengkung itu. Tempat istirahat ternyaman di bahu alam. Semua orang tau senja. Semua orang menikmati senja. Tapi tak ada yang mengamati senja. Sehingga tak ada yang tau apa yang membuat senja bisa bertahan indah di ujung sana. Ialah awan. Awan selalu setia menegapkan bahunya agar semburat itu bisa dengan nyaman bersandar manja, dan mengungkap keluh kesahnya. Jika seandainya ia tak menemukan awan sebagai pasangan yang bisa berbagi suka duka bersama. Karena senja tidak hanya punya telinga untuk mendengar keluh. Tapi juga punya mulut untuk berkeluh. Ialah awan, mungkin tak akan ada semburat kemerah-merahan ini jika tak ada celah lembut di awan-awan. Tak ada pemandangan dua elemen alam yang menakjubkan jika senja tanpa awan. Pernah suatu hari senja pergi entah kemana, hingga keesokan harinya awan merasa bersalah, mereka pun tak lagi bertemu di tempat indah di ufuk barat itu, padahal k...