Sekawanan gadis-gadis remaja yang menyandang kitab suci itu melangkah pasti di jalan desa yang diapit sawah-sawah. Terdengar bunyi sandal jepit dan ujung sarung yang memukul-mukul. Sesekali terdengar candaan ringan di dalam sekawanan itu, saling menggoda, juga sesekali pujian kagum terhadap langit senja di sepanjang jalan.
Jalanan mulai lengang, hanya ada sekawanan gadis remaja itu yang berjalan mulai cepat seolah bergegas mengejar mentari senja ke ufuk barat. "Ayo cepat! Nanti gerbang balai pengajian ditutup," sela Dara, gadis remaja yang selalu saja terlihat menunduk kapanpun, dan dimanapun ia.
"Hei Dara! Lihatlah semburat senja yang kemerah-merahan itu, indah sekali! Lihatlah!" ujar Asma dengan sumringah senyum sembari menunjuk ke ufuk barat. Dara tak berujar, dilihatnya sekilas semburat kemerah-merahan itu, lantas seketika kembali menunduk. Tapi Asma memang benar, senja hari ini memang benar-benar indah. Ia mendongakkan kepala seketika, dipandangnya lamat-lamat detik-detik senja menghilang membawa serta cahaya kemerah-merahan.
Tapi kali ini, Dara tidak melihat indah yang tersirat di ruas-ruas cahaya senja seperti yang ia lihat sekilas tadi, ia melihat ufuk barat yang telah berubah menjadi kelam, hitam, propaganda meraja lela, kekejaman yang tidak manusiawi. Ia juga mencium bau amis darah yang menerpa lubang hidungnya, telinganya sayup-sayup mendengar jeritan-jeritan lemah. Seketika ia memejamkan mata, menutup telinga dan menekannya kuat-kuat dengan dua telapak tangannya, lantas kembali menunduk, jantungnya berdegup kencang dan tenaganya terasa terkuras.
Pun begitu setelah pengajian usai, Dara bergegas pulang, ia hanya menunduk, fokus ke tiap-tiap langkah yang diayunnya. Sesampainya di rumah, lalu bergegas menuju kamar, begitulah setiap malam. Dara sudah sangat terbiasa dengan keadaan seperti ini sejak mulai mengerti terhadap apa yang dilihatnya dari dunia ini. Dunia yang begitu transparan, dan baginya menjadi introvert adalah pilihan, sehingga sahabatnya adalah jendela kamar, buku, dan komputer jadul berwarna putih.
Malam itu Dara berdiri di depan cermin, hanya ingin memastikan apakah ada sesuatu di matanya yang menyebabkan ia kelilipan sedari masuk rumah tadi? Namun dari dalam cermin kamar terasa bergoyang dan berputar-putar, semakin lama semakin cepat tapi kenyataannya tidak, hanya di dalam cermin. Dari dalam cermin seketika sudut-sudut kamarnya berubah perlahan menjadi suatu tempat yang tidak ia kenali. Muncullah seorang laki-laki paruh baya memegang pisau dan mendorong seorang gadis hingga jatuh tersungkur, mulutnya diikat dengan sapu tangan merah, kedua tangannya diinjak oleh laki-laki itu dengan sepatu bot, sehingga ia hanya terlentang tak berdaya, laki-laki itu berkata pelan sambil mengibas-ngibas pisau di lehernya, "Menyerahlah kepadaku, atau nyawamu berakhir dengan membuat pisau ini menjadi merah." gadis itu hanya menangis dan menjerit-jerit, urat-urat lehernya tegang, memerah, mengisyaratkan bahwa gadis itu benar-benar berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk melawan, namun sia-sia.
Dara yang berdiri di depan cermin mulai gemetar, keringat bercucuran, ngeri yang membuatnya menangis. Ia mundur perlahan menjauhi cermin lalu menangis memeluk lutut di pojok kamar, begitu gambar di dalam cermin hilang seketika muncullah suara-suara lembut seorang perempuan "Kau Dara, kukatakan padamu, bahwa perempuan tidak selemah yang kau lihat itu, ada kekuatan yang telah dibunuh mati, namun mati suri, sudah lama sekali, sehingga orang-orang lupa bahwa perempuan adalah sosok yang punya kekuatan. Kelak perempuan hanya seharga nasi bungkus di warung depan rumahmu. Miris, saat itu kau tidak lagi melihat perempuan penuh warna, mereka berubah menjadi suram, muram. Maka, perjuangkan hak kaummu, rebut kembali keluhuran, kesucian, dan kemuliaan yang mati suri." suara itu perlahan menghilang.
Dara kembali lagi ke depan cermin, mematung di sana menatap lamat-lamat bayangan dimensi wajahnya sendiri. "Apakah ini masa depan?" tanya kepada bayangan dalam cermin, lantas berbalik menuju meja belajar disudut kamar, diraihnya buku bersampul hitam, buku yang berisi master plannya untuk sepuluh tahun kedepan. Ia menulis sesuatu, sesuatu yang akan dilakukannya untuk mengubah masa depan.
Seminggu berlalu sejak kejadian malam itu, Dara lebih sering menyendiri di pojok-pojok perpustakaan sekolah, menyisir halaman-halaman buku, mencatat yang pelu dicatat, juga menghafal beberapa yang perlu dihafal, ia juga mulai giat menyuarakan opini-opini di blognya yang sudah lama dihuni lama-lama. Ia membagi fokus dengan adil untuk pelajaran sekolah dan pengajian malam, mungkin itu yang ditulis Dara di dalam buku hitamnya malam itu.
Tepat jam 3 sore Dara melangkah keluar perpustakaan, melewati gerbang sekolah, lalu belok kiri menuju jalan yang biasanya ditempuh untuk sampai ke rumah. Di perjalanan pulang orang-orang tampak tidak seperti biasanya. Kenapa jalanan ini begitu cepat berubah, di mana Bu Suwaibah yang dulu menjual bakso di seberang jalan sana, kenapa tokonya berubah menjadi kasino yang dipenuhi wanita-wanita bergoyang dengan pakaian minim, toko yang menjual jus tempat langganannya sepulang sekolah juga telah menjadi bar yang padat pengunjungnya, gedung-gedung toko yang dulu hanya dua lantai kini telah menjulang tinggi menjadi gedung puluhan lantai. Bukankah ini hanya pasar desa, tapi kenapa telah berubah menjadi kota besar. Celakanya, ia tidak lagi mencium semerbak syariat di sini, wewangian nilai dan moral, aroma budi, semuanya lenyap, yang ada hanya suara-suara sorak-sorai kebebasan liar, angin-angin yang dulu lembut kini terasa menusuk. Ia tertegun, jantungnya berdegup kencang.
Dara, gadis remaja yang bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa melihatnya.
Inilah masa depan, gumamnya. Masa depan di mana agama, nilai dan moral dipertaruhkan. Ia menutup mata lama sekali, telinganya pun di tekan dengan kedua tangannya kuat-kuat, agar tak ada suara-suara aneh yang masuk. Lantas dibuka lagi matanya, lalu berlari pulang dengan jantung yang masih berdegup kencang.
Dara, hidup dalam keadaan yang tidak pernah diminta. Ya, memang semua orang tidak pernah meminta hidupnya akan jadi seperti apa. Namun Dara, menerima dan menjalaninya dengan baik, dengan sebuah pertanggung jawaban. Ya, bertanggung jawab akan takdir dalam hidupnya. Karena ia bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa melihatnya.
Sesampainya di rumah, Dara kembali membuka buku hitam, menulis apa yang mesti dilakukan di masa depan untuk memperbaiki keadaan, di tariknya nafas dalam-dalam dan mulai menulis tentang masa depan. Apa yang harus dipelajari, apa yang harus dicapai, kemana ia akan pergi, siapa yang akan dilibatkan dalam perjalanan ini, di mana ia akan memulai, kapan ia harus memula. Sebuah peta perjalanan masa depan. Dara melakukannya dan baru saja memulai perjalanannya. Memulai untuk menjadikan masa depan lebih baik. Kamu?
Komentar
Posting Komentar