Langsung ke konten utama

Senja dan Awan

Senja bukanlah senja jika ia belum jatuh melesat perlahan mendekat ke garis bumi yang katanya melengkung itu. Tempat istirahat ternyaman di bahu alam. Semua orang tau senja. Semua orang menikmati senja. Tapi tak ada yang mengamati senja. Sehingga tak ada yang tau apa yang membuat senja bisa bertahan indah di ujung sana. Ialah awan.

Awan selalu setia menegapkan bahunya agar semburat itu bisa dengan nyaman bersandar manja, dan mengungkap keluh kesahnya. Jika seandainya ia tak menemukan awan sebagai pasangan yang bisa berbagi suka duka bersama.

Karena senja tidak hanya punya telinga untuk mendengar keluh. Tapi juga punya mulut untuk berkeluh. Ialah awan, mungkin tak akan ada semburat kemerah-merahan ini jika tak ada celah lembut di awan-awan. Tak ada pemandangan dua elemen alam yang menakjubkan jika senja tanpa awan.

Pernah suatu hari senja pergi entah kemana, hingga keesokan harinya awan merasa bersalah, mereka pun tak lagi bertemu di tempat indah di ufuk barat itu, padahal keduanya sama-sama merindu. Senja sesekali hadir sendiri disana sembari menunggu awan kembali, tapi dunia tidak lagi merasakan keindahannya.

Saat rindu keduanya memuncak, penduduk bumi mendengar jeritan yang entah dari mana, semua bertanya "Apakah itu jeritan senja dan awan yang tak lagi berjumpa?" tak ada yang tau hingga sore awan hadir. Kala itu, penduduk bumi merayakan hari bahagia sedunia dan percaya bahwa pergi tidaklah abadi.

Ternyata perpisahan itu hanyalah sementara sebagai jeda untuk keduanya tumbuh dewasa, di saat begitu mereka pun menyadari bahwa keindahan itu diperoleh jika kedunya saling memahami kekurangannya masing-masing.

Senja dan awan. "Tidak pernah indah jika tidak ada sandingan itu," kata penduduk bumi yang melempar pandang lelah.   Alunan irama yang menyatu dengan desiran riang ombak. Panas kopi pahit yang diterbangkan angin. Pantai yang ditelusuri dengan kaki-kaki telanjang. Inilah janji para penikmat senja dan awan kepada pasangannya yang disaksikan langsung senja dan awan "Aku akan tunjukkan kepadamu dunia yang katanya indah." Inilah senja dan awan.

Akhirnya, awan dan senja pun berkomitmen untuk selalu bersama demi menyajikan keindahan yang seolah tiada habisnya, setiap hari awan pun menunggu di tempat yang sama tanpa ada rasa takut kecewa, karna awan yakin senja pasti tidak pernah mengingkari janjinya. Hingga nanti tiba saatnya langit dan bumi tidah sanggup lagi menyediakan tempat bagi mereka untuk bermanja.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bercermin Kepada Nasionalisme Samurah Ibnu Jundab - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

Oleh: Tuhfatul Athal Nasionalisme dapat diartikan semangat kebersamaan, sikap berjuang mengupayakan apapun demi kemakmuran dan kesejahteraan negeri, mengabadikan identitas, integritas, dan kekuatan bangsa. Sebagaimana negara yang menjadi identitas individu (nationality), agama juga merupakan sebuah identitas yang melekat pada diri seseorang, sehingga semangat kebersamaan dalam beragama juga bisa disebut nasionalisme. Lazimnya, nasionalisme dimanivestasikan dalam bentuk perjuangan, yaitu berperang. Dalam bahasa Arab, perjuangan diistilahkan dengan "جهاد". Maka dari itu, jihad merupakan salah satu bentuk dari nasionalisme. Pada dasarnya, sifat nasionalisme ini merupakan tuntutan untuk dimiliki oleh segenap jiwa yang menjadi warga sebuah negara. Dalam hal ini, umat beragama. Tidak tertentu pada umur, ras, ataupun daerah. Dengan demikian, maka rasa nasionalisme akan di manifestasi kan dalam berbagai tindakan, para pelajar akan mewujudkan nasionalismenya dengan giat be...

Pagiku Cerahku OTW Kampus - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

  Pagiku Cerahku Otw Ngampus – Institut Agama Islam Al-Aziziyah Hallo hai, I come back after long time get out of writing. Rindu dengan kalian, komentar, kritik, that’s really help me to find even to grow and glow my self. Thank you untuk kunjungan blog kali ini, berarti banget, serius. Adanya tulisan ini pastinya adalah untuk bercerita tentang sederet pengalaman 4 tahun silam, dari cerita ini nantinya akan lahir bermacam ragam perspektif, pesan, kesan dan juga nilai. Ya semoga ada yang termotivasi, ada yang terkritik, ada yang terbangun. Semoga. Itu harapan terserius yang pernah ada.   Let’s begin. Jujur, I really not expected akhirnya diumumkan lulus sebagai maba di kampus IAIA. Awalnya sempat ngerasa salah jurusan, karena menurutku ketertarikanku adalah di komunikasi, seharusnya aku kuliah di Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, dan semua orang yang aku konsul juga bilang gitu. Dan nyatanya, aku di Prodi Manajemen Pendidikan Islam. Sampe sekarang masih terpikir “K...

Badai Matahari, Bencana yang Terlampau Indah - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

  Badai Matahari, Bencana yang Terlampau Indah   Sama halnya seperti bumi yang lengkap dengan berbagai fenomena dari produk alam yang saling berinteraksi. Seperti halnya angin badai yang disebabkan oleh suhu permukaan air laut yang terlalu tinggi. Demikian pula dengan matahari, sumber utama penghasil cahaya di sistem tata surya ini juga memiliki berbagai fenomena menakjubkan, di antaranya adalah badai matahari. Bintik matahari (sunspot) yang berada di permukaan matahari merupakan bagian yang mempunyai suhu lebih rendah dari sekelilingnya yaitu 1.843 °C .  (sumber: sains.sindonews.c0m, 2022) Melalui teleskop, bintik matahari akan terlihat berwarna hitam, sedangkan ukurannya berkisar antara 300 – 100.000 km. ketika bintik matahari terbentuk maka pancaran energi matahari di daerah tersebut akan terganggu, sehingga energi dari dalam matahari yang tertahan oleh sunspot akan terhambat dan terkumpul dalam jumlah yang banyak –lebih banyak dari pancaran energi normal. Hingg...