Langsung ke konten utama

Kemilau Islam Senantiasa Mengabadi - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

Oleh: Tuhfatul Athal

Islam lahir dengan kemuliaan dan ketinggian, senantiasa terus mengabadi hingga zaman menjumpai akhir. Jejaknya dari masa Rasulullah SAW, lalu sahabat, filsuf-filsuf Islam dari masa ke masa terus saja memegang kuat tongkat estafet kemuliaan Islam, mempertahan
kannya hingga sekarang, sehingga Islam terus mengabdi dalam kemilau kemuliaan. Betapa banyak teknik-teknik perang yang Rasulullah wariskan hingga menjadi taktik perang modern yang masih dipakai hingga saat ini, strategi bisnis, manajemen hidup, obat-obatan, leadership skill, ilmu bisnis dan masih banyak lagi cikal bakal yang bersumber dari Rasulullah yang menjadi pedoman ilmu pengetahuan modern saat ini.
Hadirnya Islam yang dibawa oleh kepribadian agung yang mulia Nabi Muhammad SAW benar-benar menjadi lentera penerang sepanjang zaman, gerbang menuju kejayaan yang gemilang, agama yang mampu membuka mata dunia. Saat perhitungan waris dan perhitungan zakat begitu rumit dengan angka Romawi, lahirlah angka nol dan aljabar, saat Rasulullah mencontohkan wewangian, berlomba-lomba lah riset tentang Alkemi yang menjadi cikal bakal kimia modern, saat kesucian menjadi bagian dari iman, lahirlah sabun untuk memaksimalkan bersih ketika bersuci, saat adzan dan kajian ilmu agama harus menjangkau puluhan ribu manusia, lahirlah sistem akustika, saat daerah kekuasaan Islam makin luas, lahirlah pemetaan astronomi astrolab dan ilmu navigasi, saat Rasulullah memerintahkan yang sakit untuk pergi mencari pengobatan, muncullah dokter-dokter yang luar biasa.
Karenanya, agak sedikit tau jika kita mendengar istilah "Islamisasi sains", apanya yang harus diislamisasikan, bukankah sains berasal dari tokoh-tokoh Islam, namun demikian tak dapat dipungkiri juga, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, banyak sains yang berlandas Islam telah bercampur dengan pemikiran-pemikiran Barat yang telah melenceng dari sains yang bersumber dari tokoh Islam. Ketika penemuan-penemuan orang Islam diadopsi oleh barat dan identitas penemunya disamarkan, yang dunia tahu penemuan tersebut dipelopori oleh Barat. Otomatis, nama orang Islam di dalam deret tokoh penemu mulai kabur, terus kabur hingga hilang seperti kasus kitab-kitab karya Ali al-Hasan ibn Haitsam (965-1038) yang dikenal di barat sebagai Alhazen, beliau adalah ahli optika, matematika, astronomi, dan filsafat. Ibn Haitsam di abad ke-11 sudah terlebih dahulu menulis dan mengembangkan spektrum cahaya yang kemudian dilengkapi oleh Kamal El-Din pada abad ke-14, jauh sebelum Newton mengatakan bahwa sinar putih adalah kombinasi bermacam warna.
Pada abad ke ke-17. Banyak buku-bukunya yang telah dialih bahasa dan namanya tidak pernah dicantumkan, diantaranya kitab Al-Manâzhir, diterbitkan sebagai Opticae Thesaurus oleh Friedrich Risner di Basel pada 1572. Juga bukunya, Maqâlah fî Hayâh al-Âlam, diterjemahkan ke dalam dua bahasa Ibrani, di samping tiga bahasa Latin-salah satunya berjudul Las Tradicciones Orientalis serta bahasa Persia dan Castilis.  Pengaruhnya tampak tampak pada Kepler yang kelas menjadi ahli optik, selain itu, juga pada Roger Bacon, Vitellio, dan Leonardo da Vinci.  Karya Keple adalah Ad Vitellionem Paralipomena, yang terbit pertama kali di Frankfurt (1604),  buku tersebut sepenuhnya didasarkan pada karya Ibn al-Haitsam ini.  
Abu Ali al-Husain ibn Sina (980-1037), selain seorang filsuf adalah seorang dokter dan ahli kedokteran terkemuka. Karyanya, Al-Qânûn fi al-Thibb, adalah buku yang paling banyak digunakan, baik oleh kalangan Islam maupun Eropa- Kristen, terutama hingga abad ke-16. Meskipun demikian, buku tersebut masih juga digunakan hingga abad ke-19, terutama yang mengenai penyakit syaraf. Pada tiga puluh tahun terakhir dari abad ke-15 saja, buku tersebut telah mengalami 15 kali penerbitan di Cremona, bahasa Latin, dan sekali dalam bahasa Ibrani. Antara 1150-1187, Gerard de Cremona menerjemahkannya ke dalam berbagai bahasa, Prancis, Spanyol, Ibrani, Italia, dan sebagainya. Dalam abad ke-16, buku tersebut telah dicetak lebih dari 21 kali, belum termasuk puluhan kali penerbitan beberapa bagiannya sehingga, menurut salah seorang sarjana Barat, tak seorang ahli kedokteran antara abad ke-13 hingga abad ke-16 yang lepas dari pengaruhnya. Selain itu, banyak juga beredar hasil plagiat dari karya Ibn Sina, seperti Opus Majus yang merupakan hasil plagiat dari Al-Syifâ' yang ditulis oleh Roger Bacon seorang frater Katolik Roma dari Ordo Fransiskan.
Selanjutnya, ada Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi (780 M-850 M) yang merupakan perintis aljabar. Bukunya, Al-Jabr wa al-Muqâbalah, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Liber Algoritm oleh Gerbert d'Aurignac. Buku ini juga diterjemahkan oleh Robert dari Chester dengan judul Liber Algebra et Almucabola. Buku inilah yang menyebarkan penggunaan angka Arab dalam sistem desimal, yang tanpa itu semua matematika dan aritmetika modern tak pernah terbayangkan. Beberapa rumus ilmu ukur, termasuk mengenai segitiga, daftar logaritma, dan sistem desimal, yang secara keliru dinisbahkan kepada John Napier (1550-1617) dan Simon Stevin dari Brugge (1548-1620), sebenarnya adalah temuan al-Khawarizmi.
Argumen di atas juga didukung oleh pernyataan tokoh Barat sendiri, seperti pernyataan Desmond Stewan dalam Early Islam "Manusia modern yang bergantung pada obat-obatan, kemahiran dokter, hitungan komputer, dan ramalan-ramalan perencanaan ekonomi lebih banyak berutang kepada sarjana-sarjana Islam Abad Pertengahan melebihi yang selama ini disangka. Para ahli kimia, dokter-dokter, ahli ilmu bintang, ahli matematika, ahli ilmu bumi, dan ahli Muslim lainnya, antara abad ke-9 dan ke-14, bukan saja menghidupkan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan Yunani, melainkan memperluas jangkauannya, meletakkan dan memperkuat dasar-dasar tempat tumpuan bagi terbitnya ilmu pengetahuan modern."
Kita semua tercengang melihat kumpulan fakta-fakta yang hanya dipandang sebagai kisah peradaban sambil kagum berkata "Wah", pendahulu kita tidak butuh itu, sejujurnya mereka ingin sekali tangan-tangan kita ini merebut kembali kemilau yang pernah agung di tangan mereka, mereka ingin kita pungut semangat pemuda-pemudi Muslim yang berceceran hancur saat langkah terakhir di gerbang menuju kejayaan. Terdengar sayup teriakan mereka terselip di lembaran kitab-kitab tua "Di mana kalian?" Ingin sekali melihat pemuda pemudi nongki-nongki sambil bahasa ilmu pengetahuan di sudut-sudut warung kopi. Ada, tapi langka.

Dimana kelirunya kita?

Data membuktikan, mundurnya orang Islam padahal teknologi seperti sekarang ini sedang jaya-jayanya adalah disebabkan oleh kurangnya anggaran yang dialokasikan untuk penelitian yang menghasilkan penemuan. 
Menurut data UNESCO dan Bank Dunia, sejumlah 20 negara anggota OkI menganggarkan hanya 0,34% dari GDP (data 1996-2003), hanya sepertujuh dari anggaran rata-rata global sebesar 2,36%. Negara-negara Muslim hanya mempunyai kurang dari 10 saintis/insinyur/ahli teknik dari 1.000 penduduk dibandingkan dengan rata-rata global dan negara-negara maju.  Mereka hanya memberi kontribusi 1% dari paper saintifik yang terbit di dunia. Atlas of Islamic World Science and Innovation terbitan Royal Society menyebutkan bahwa para saintis di dunia Arab (17 di antaranya termasuk negara-negara anggota OKI) menghasilkan terbitan saintifik sebanyak 13.444 paper pada 2005 atau 2.000 lebih sedikit dibandingkan dengan 15.455 paper yang dihasilkan oleh Universitas Harvard saja. Lebih dari soal kuantitas, kualitas riset saintifik di negara-negara Muslim lebih memprihatinkan lagi. Kurangnya anggaran riset di negara-negara Muslim berakibat dari beberapa faktor. Pertama, sebagian besar negara Muslim termasuk di antara negara-negara relatif miskin, sehingga lebih memprioritaskan program-program jangka pendek guna mengatasi masalah- masalah kebutuhan dasar dan mendesak, seperti kemiskinan penyakit, penanggulangan konflik, dan lain-lain. Karena anggaran untuk bertahan hidup jauh lebih penting daripada hanya untuk sekedar riset. Kedua, memang ada sebagian dari negara-negara Islam adalah negara kaya seperti Dubai. Akan tetapi, mereka lebih suka untuk memanfaatkan teknologi, bukan menciptakan teknologi, karena mereka berpikir bahwa mereka kaya, mereka punya aset yang bisa dipakai untuk terus membiayai kehidupan mereka tanpa harus menciptakan teknologi baru ataupun riset-riset. Tapi ini bukan berbicara masalah aset untuk bertahan hidup, tetapi kendali orang Islam dalam memegang laju perkembangan sains yang melemah. Ketiga, ketidakstabilan politik di banyak negara muslim akibat kecenderungan konflik diantara mereka sendiri, di samping campur tangan negara-negara adidaya atas mereka demi kepentingan politik dari negara-negara adidaya tersebut. Hal ini juga menjadi salah satu faktor besar  penghambat berkembangnya sains.  Keempat, rendahnya kualitas pendidikan masyarakat di negara-negara Muslim. Alasannya karena kurangnya akses terhadap pendidikan berkualitas bagi masyarakat di negara-negara tersebut, baik dari segi infrastruktur, sumber daya pendidikan, maupun kebijakan pendidikan pada umumnya yang diatur secara tidak efektif dan efesien. Poin pertama dan poin keempat ini sangat berhubungan.
Namun demikian, berangkat dari faktor-faktrod diatas, belakangan ini negara-negara muslim ternyata sedang giat mengupayakan berbagai proyek di bidang sains maupun teknologi yang telah dipublikasikan secara luas. Seperti taman sains (science park) yang dibuka pada Musim Semi 2009 di sebuah kota metropolis bernama Kota Pendidikan (Education City) di pinggiran Doha, Ibu Kota Qatar yang menjadi rumah bagi sejumlah kampus kelas dunia, termasuk Carnegie Mellon, Texas A&M, dan Northwestern. Taman Sains dan Teknologi Qatar (The Qatar Science and Technology Park), diharapkan menjadi simpul hubung bagi perusahaan-perusahaan teknologi tinggi di dunia, dengan meniru keberhasilan Lembah Silikon di California, Amerika Serikat. Penyewa QSTP diharuskan menjadikan pengembangan teknologi sebagai aktivitas utama mereka tetapi juga dapat berdagang secara komersial. Perusahaan pertama yang bergabung dengan QSTP adalah EADS ,ExxonMobil , GE , Microsoft , Rolls-Royce , Shell , Total dan iHorizons .Qatar juga dikenal dengan pengembangan riset dan keilmuan di bidang angkasa luar (space sciences), sementara negara tetangga mereka dikenal dengan proyek pesawat angkasa luar untuk eksplorasi Planet Mars yang yang dikenal dengan proyek pendalaman harapan yang direncanakan diluncurkan pada Desember 2021 mendatang.
Selanjutnya, adalah sebuah proyek yang sedang dipersiapkan oleh King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), ini adalah kampus universitas riset berkelas internasional yang sangat luas, didirikan pada tahun 2009, lengkap dengan laboratorium mutakhir  yang menghabisjan anggaran 1,5 triliun Dolar pada 5 tahun pertamanya dan 10 triliun dolar untuk keseluruhannya. Universitas ini memiliki dana abadi terbesar kedua di dunia setelah Universitas Harvard, KAUST sering disebut sebagai "Rumah Kebijaksanaan" baru atau "MIT Arab" oleh banyak orang. Universitas ini dibangun dari nol dalam tempo kurang dari tiga tahun. Proyek ini dibangun di pantai barat Arab Saudi, Universitas ini menjamin kebebasan berkreativitas bagi para peneliti dan menerapkan standar internasional tertinggi dalam hal riset dan pendidikan. Tujuan dari program-program yang akan dilaksanakan nya adalah untuk mendukung masa depan Arab Saudi di era pasca minyak. Beberapa Universitas terkemuka di Eropa juga terlihat berkomitmen terlibat dalam proyek ini dengan mengharapkan kemajuan ilmiah yang akan dicapai oleh umat sedunia, terutama umat Muslim. KAUST memberikan beasiswa penuh bagi mahasiswa dari seluruh dunia untuk menempuh studi master dan doktoral dalam bidang sains dan teknologi. KAUST menyediakan tiga divisi akademik, yaitu Biological and Environmental Sciences and Engineering (BESE), Computer, Electrical and Mathematical Sciences and Engineering (CEMSE), dan Physical Sciences and Engineering (PSE). Ketiga divisi tersebut terbagi menjadi 11 jurusan dan 9 pusat penelitian.
Orang-orang Islam sedang menapaki jejak, merebut mempertahankan keorisinilannya yang dirampas. Kita sedang dalam proses menuju keagungan Islam yang abadi. Mari bergabung membawa perubahan. []

*Tulisan ini telah dimuat di Majalah Umdah Edisi XXIII

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bercermin Kepada Nasionalisme Samurah Ibnu Jundab - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

Oleh: Tuhfatul Athal Nasionalisme dapat diartikan semangat kebersamaan, sikap berjuang mengupayakan apapun demi kemakmuran dan kesejahteraan negeri, mengabadikan identitas, integritas, dan kekuatan bangsa. Sebagaimana negara yang menjadi identitas individu (nationality), agama juga merupakan sebuah identitas yang melekat pada diri seseorang, sehingga semangat kebersamaan dalam beragama juga bisa disebut nasionalisme. Lazimnya, nasionalisme dimanivestasikan dalam bentuk perjuangan, yaitu berperang. Dalam bahasa Arab, perjuangan diistilahkan dengan "جهاد". Maka dari itu, jihad merupakan salah satu bentuk dari nasionalisme. Pada dasarnya, sifat nasionalisme ini merupakan tuntutan untuk dimiliki oleh segenap jiwa yang menjadi warga sebuah negara. Dalam hal ini, umat beragama. Tidak tertentu pada umur, ras, ataupun daerah. Dengan demikian, maka rasa nasionalisme akan di manifestasi kan dalam berbagai tindakan, para pelajar akan mewujudkan nasionalismenya dengan giat be...

Pagiku Cerahku OTW Kampus - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

  Pagiku Cerahku Otw Ngampus – Institut Agama Islam Al-Aziziyah Hallo hai, I come back after long time get out of writing. Rindu dengan kalian, komentar, kritik, that’s really help me to find even to grow and glow my self. Thank you untuk kunjungan blog kali ini, berarti banget, serius. Adanya tulisan ini pastinya adalah untuk bercerita tentang sederet pengalaman 4 tahun silam, dari cerita ini nantinya akan lahir bermacam ragam perspektif, pesan, kesan dan juga nilai. Ya semoga ada yang termotivasi, ada yang terkritik, ada yang terbangun. Semoga. Itu harapan terserius yang pernah ada.   Let’s begin. Jujur, I really not expected akhirnya diumumkan lulus sebagai maba di kampus IAIA. Awalnya sempat ngerasa salah jurusan, karena menurutku ketertarikanku adalah di komunikasi, seharusnya aku kuliah di Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, dan semua orang yang aku konsul juga bilang gitu. Dan nyatanya, aku di Prodi Manajemen Pendidikan Islam. Sampe sekarang masih terpikir “K...

Badai Matahari, Bencana yang Terlampau Indah - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

  Badai Matahari, Bencana yang Terlampau Indah   Sama halnya seperti bumi yang lengkap dengan berbagai fenomena dari produk alam yang saling berinteraksi. Seperti halnya angin badai yang disebabkan oleh suhu permukaan air laut yang terlalu tinggi. Demikian pula dengan matahari, sumber utama penghasil cahaya di sistem tata surya ini juga memiliki berbagai fenomena menakjubkan, di antaranya adalah badai matahari. Bintik matahari (sunspot) yang berada di permukaan matahari merupakan bagian yang mempunyai suhu lebih rendah dari sekelilingnya yaitu 1.843 °C .  (sumber: sains.sindonews.c0m, 2022) Melalui teleskop, bintik matahari akan terlihat berwarna hitam, sedangkan ukurannya berkisar antara 300 – 100.000 km. ketika bintik matahari terbentuk maka pancaran energi matahari di daerah tersebut akan terganggu, sehingga energi dari dalam matahari yang tertahan oleh sunspot akan terhambat dan terkumpul dalam jumlah yang banyak –lebih banyak dari pancaran energi normal. Hingg...