Langsung ke konten utama

Pagiku Cerahku OTW Kampus - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

 



Pagiku Cerahku Otw Ngampus – Institut Agama Islam Al-Aziziyah


Hallo hai, I come back after long time get out of writing. Rindu dengan kalian, komentar, kritik, that’s really help me to find even to grow and glow my self. Thank you untuk kunjungan blog kali ini, berarti banget, serius.

Adanya tulisan ini pastinya adalah untuk bercerita tentang sederet pengalaman 4 tahun silam, dari cerita ini nantinya akan lahir bermacam ragam perspektif, pesan, kesan dan juga nilai. Ya semoga ada yang termotivasi, ada yang terkritik, ada yang terbangun. Semoga. Itu harapan terserius yang pernah ada.

 

Let’s begin.

Jujur, I really not expected akhirnya diumumkan lulus sebagai maba di kampus IAIA. Awalnya sempat ngerasa salah jurusan, karena menurutku ketertarikanku adalah di komunikasi, seharusnya aku kuliah di Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, dan semua orang yang aku konsul juga bilang gitu. Dan nyatanya, aku di Prodi Manajemen Pendidikan Islam. Sampe sekarang masih terpikir “Kok bisa ya?” but this is the reality, here I am sitting in the class, saat itu 2017 nggak ada classroom karena bangunan kampus dirobohkan gempa dan semua mahasiswanya termasuk maba ngampus di mana aja yang penting ngampus dan pulang bawa ilmu, that’s fun, really. Kadang ketika diperjalanan dari ngampus balik ke pondok selalu terbayang “kok bisa ya? Ah this is my reality, terima aja, lalu hidupkan, berikan yang terbaik, jangan kecewakan siapapun, selama mau belajar tidak ada yang namanya salah jurusan. Apa salahnya nyoba hal baru, maybe this is will be fun”. Itu motivasi intrinsik yang selalu membarengi hela nafas ayun langkah selama 4 tahun.

Karena tau bahwa menerima kegagalan itu pahit walau hanya di mimpi, aku bangun, lalu mengambil kertas dan pensil untuk menulis target apa selama 4 tahun kedepan, pertamanya pakai pensil. Setelah menulis goal pertama lalu aku berubah pikiran “Kenapa pakai pensil? Kan kalo pakai pensil nanti goals-nya sewaktu-waktu bisa dihapus, kalo pakai pulpen goals-nya akan permanen dan menandakan bahwa aku ini komitmen untuk bikin goals,” akhirnya pakai pulpen.

Goals pertama yang aku tulis adalah ”Cumlaude” kenapa harus cumlaude? Memangnya cumlaude itu untuk menjadi hebat? No, cumlaude bukan untuk menjadi hebat, bukan juga untuk mempercantik CV dan membuat HRD terkesima. Tapi dengan punya goals untuk cumlaude maka akan lahir komitmen lain, komitmen itu adalah semangat, pantang menyerah, rajin belajar, tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi, menjadi yang terbaik, disiplin dan tidak banyak buang-buang waktu. Karena untuk mencapai titik cumlaude dan lulus dengan predikat Mahasiswa Terbaik bukan sebuah keberuntungan bukan juga sebuah keajaiban abracadabra. But, we have to bent every effort to reach it.     

Setelah menulis sejumlah goals beserta furu’nya, ku simpan kertas itu baik-baik, namun ada satu goals yang kutuliskan di kertas kecil dan aku memilih menempelnya di dalam lemari, karena bagi santri lemari itu merupakan tempat untuk menyimpan apapun, pastinya setiap saat akan dibuka untuk segala keperluan, sehingga ketika membuka lemari tulisan “Cumlaude” akan selalu terbaca, jika semakin sering terlihat dan terbacanya sebuah goal, maka akan semakin kuat tertanam di alam bawah sadar untuk selalu berusaha memperjuangkannya dalam segala niat dan aksi.

*Foto tulisan Cumlaude di dalam lemari

Day by day semester pertama dan kedua masih terasa sulit dan nggak sesuai sama sekali dengan ekspektasi. Mungkin wajar, karena kampus IAIA jelas berbeda dengan kampus lain, kampus IAIA mewajibkan mondok di salah satu pesantren rekomendasi, hal ini tentu memaksa mahasiswa untuk tetap memaksimalkan diri baik di kampus maupun di pondok, sehingga tidak ada aspek yang terabaikan, ini jelas tantangan besar. Selain itu, mahasiswa laki-laki dan perempuan terpisah saat belajar, wajib memakai cadar dan seragam kampus. Selain itu, jam kuliah yang selalu mepet tentu membutuhkan trik tersendiri untuk bisa click dengan apa yang akademik kampus inginkan. Trik, kiat ataupun tips untuk kuliah di IAIA tidak perlu dicari di Google atau YouTube, tidak ada yang seratus persen bisa relate, tapi ciptakan sendiri kiatnya, kokohkan sendiri prinsipnya.


Bagaimana bisa fokus ditengah-tengah unexpected friend?

Aku lebih memilih menyebutnya unexpected friend daripada toxic friend yang terlihat kejam. Bagi setiap individu tentunya kriteria teman yang diharapkan pasti beda-beda. Aku sendiri sangat mengharapkan teman yang 80% sama seperti diriku dalam aspek apapun. And unfortunately, I can’t find them in my class.

Teman tentu sangat berpengaruh terhadap mood belajar dan cara kita berpikir, sebenarnya yang salah itu bukan teman, they are normal, mereka hidup dan belajar dengan cara dan gaya mereka sendiri, ini hanya soal kurang bisa click dengan mereka hanya di dalam ruangan saat belajar, jangan juga sampai mempengaruhi sosial pertemanan. Apakah ada cara lain untuk survive?

 Dengan mengingat bahwa kita sebenarnya tidak hidup di dunia yang kita lihat saat ini, tapi kita hidup di dunia yang kita pikirkan. Sedari itu, aku berusaha selalu membayangkan bahwa teman-teman seunitku adalah orang-orang hebat, mereka berwawasan luas, lulusan SMA favorit, punya cita-cita tinggi, dan setelah S1 mereka semua akan melanjutkan study abroad. Wow, mereka hebat. That’s what I think every single day. Dari pikiran-pikiran itu aku tergerak untuk bisa do the best and be the first di segala kesempatan paling tidak untuk menyeimbangi teman-teman unitku yang hebat itu.

Semester tiga, empat dan seterusnya terasa sangat mudah karena dari awal aku sudah mempersiapkan mindset, the way I play, dan mencari jawaban dari semua rumusan masalah how, detail membuat target. Walau masih sesak jika sesekali dapat jadwal di lantai empat, tapi setiap tetes keringat selalu menjadi motivasi untuk membuktikan kepada dunia teori-teori yang telah kuciptakan sendiri, juga untuk membantah semua alasan orang-orang yang hobi membuat alasan. Tapi, sesekali keadaan akan membuat kita tertegun terhadap realita, sesekali kita bosan belajar terus tapi ternyata IPK teman yang hobi nyontek mengungguli nilai kejujuran kita. Sesekali air mata tak terbedung untuk keluar karena hasil belajar kita semalaman dikalahkan oleh koneksi internet Android teman saat final. Sesekali kesal karena dosen salah memberi nilai dengan teman dibawah baris absen. Hal ini wajar keliru, karena dosen sulit sekali mengenal kami dengan keadaan bercadar. Jujur, aku sering nangis cuma karena “Dia nyontek, dia bawa buku, kok IPK dia bisa lebih tinggi? Terasa banget usaha tidak sebanding dengan hasil walaupun itu masih tergolong normal-normal saja.

Di titik itu, jika aku memutuskan untuk depresi dan menjadi manusia apa adanya tanpa ada usaha, menyalahkan keadaan, meruntuhkan semua mindset yang susah payah dibangun, maka aku telah usai dan mati, maka aku tidak akan menjadi salah satu bukti bahwa kuliah salah jurusan juga bisa menjadi Mahasiswa Terbaik. Tapi, aku survive dengan birunya langit yang seolah memanggil, desiran angin yang seolah mengajak, mimpi-mimpi yang membantuku berdiri.

 Alhamdulillah 7 November 2021 aku lulus dengan predikat Cumlaude sebagai Mahasiswa Terbaik Prodi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah.

Untuk semuanya. Perjuangan itu tidak ada yang instan, Cumlaude juga bukan sebuah keberuntungan. Dan mimpi tidak akan pernah terwujud hanya dengan tidur. Mulai aja dulu sebagai langkah pertama because a thousand miles journey must begin with a single step. Semangat! 

Aku berterimakasih kepada seluruh orang-orang yang pernah terlibat selama 4 tahun, selama 4 tahun aku belajar banyak tentang kepribadian, mindset dan kerja keras. Terimakasih untuk kedua orang tua tercinta, ayahnek dan minek tersayang, guree Putri Muslimat dan dosen yang dimuliakan, teman teristimewa, sosok yang pintar, bersahaja dan berwibawa, dialah guru sekaligus kakak di kala jauh dari keluarga, motivator terbaik, sosoknya adalah Sarah Ulfah. Dengannya aku mulai segalanya, dengannya aku mulai mengenal diriku dengan baik. Congratulation untukmu, semoga menjadi bintang kejora untuk semesta, lanjutkan perjalanan menuntut ilmunya. Karena setiap yang datang pasti pergi, itu mengajari kita untuk mandiri. Semangat!!!

So, what’s next?


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bercermin Kepada Nasionalisme Samurah Ibnu Jundab - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

Oleh: Tuhfatul Athal Nasionalisme dapat diartikan semangat kebersamaan, sikap berjuang mengupayakan apapun demi kemakmuran dan kesejahteraan negeri, mengabadikan identitas, integritas, dan kekuatan bangsa. Sebagaimana negara yang menjadi identitas individu (nationality), agama juga merupakan sebuah identitas yang melekat pada diri seseorang, sehingga semangat kebersamaan dalam beragama juga bisa disebut nasionalisme. Lazimnya, nasionalisme dimanivestasikan dalam bentuk perjuangan, yaitu berperang. Dalam bahasa Arab, perjuangan diistilahkan dengan "جهاد". Maka dari itu, jihad merupakan salah satu bentuk dari nasionalisme. Pada dasarnya, sifat nasionalisme ini merupakan tuntutan untuk dimiliki oleh segenap jiwa yang menjadi warga sebuah negara. Dalam hal ini, umat beragama. Tidak tertentu pada umur, ras, ataupun daerah. Dengan demikian, maka rasa nasionalisme akan di manifestasi kan dalam berbagai tindakan, para pelajar akan mewujudkan nasionalismenya dengan giat be...

Badai Matahari, Bencana yang Terlampau Indah - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

  Badai Matahari, Bencana yang Terlampau Indah   Sama halnya seperti bumi yang lengkap dengan berbagai fenomena dari produk alam yang saling berinteraksi. Seperti halnya angin badai yang disebabkan oleh suhu permukaan air laut yang terlalu tinggi. Demikian pula dengan matahari, sumber utama penghasil cahaya di sistem tata surya ini juga memiliki berbagai fenomena menakjubkan, di antaranya adalah badai matahari. Bintik matahari (sunspot) yang berada di permukaan matahari merupakan bagian yang mempunyai suhu lebih rendah dari sekelilingnya yaitu 1.843 °C .  (sumber: sains.sindonews.c0m, 2022) Melalui teleskop, bintik matahari akan terlihat berwarna hitam, sedangkan ukurannya berkisar antara 300 – 100.000 km. ketika bintik matahari terbentuk maka pancaran energi matahari di daerah tersebut akan terganggu, sehingga energi dari dalam matahari yang tertahan oleh sunspot akan terhambat dan terkumpul dalam jumlah yang banyak –lebih banyak dari pancaran energi normal. Hingg...