Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Masa Depan Minta Tolong - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

Sekawanan gadis-gadis remaja yang menyandang kitab suci itu melangkah pasti di jalan desa yang diapit sawah-sawah. Terdengar bunyi sandal jepit dan ujung sarung yang memukul-mukul. Sesekali terdengar candaan ringan di dalam sekawanan itu, saling menggoda, juga sesekali pujian kagum terhadap langit senja di sepanjang jalan. Jalanan mulai lengang, hanya ada sekawanan gadis remaja itu yang berjalan mulai cepat seolah bergegas mengejar mentari senja ke ufuk barat. "Ayo cepat! Nanti gerbang balai pengajian ditutup," sela Dara, gadis remaja yang selalu saja terlihat menunduk kapanpun, dan dimanapun ia.  "Hei Dara! Lihatlah semburat senja yang kemerah-merahan itu, indah sekali! Lihatlah!" ujar Asma dengan sumringah senyum sembari menunjuk ke ufuk barat. Dara tak berujar, dilihatnya sekilas semburat kemerah-merahan itu, lantas seketika kembali menunduk. Tapi Asma memang benar, senja hari ini memang benar-benar indah. Ia mendongakkan kepala seketika, dipandangnya...

Peran Santri di Tengah-tengah Corona - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

       Pada 16 maret 2020, dayah di seluruh Aceh serentak menerima surat himbauan dari Dinas Pendidikan Dayah Aceh (DPDA) terkait antisipasi corona terhadap santri. Santri belum sepenuhnya percaya terhadap corona yang telah begitu cepat menyebar te tanah Aceh. Mereka panik, dan sejumlah instansi telah diliburkan untuk dikarantina selama empat belas hari kedepannya. Beberapa pimpinan dayah di Aceh telah mengambil keputusan untuk memulangkan santri ke daerah masing-masing. Namun, ada diantara yang tidak bertindak demikian.             Beberapa hari terakhir, sejumlah santri mulai menunjukkan kepanikannya. Pasalnya, bebarapa masyarakat Aceh diberitakan suspect corona. Dalam deraan kepanikan, namun karena didukung oleh kecanggihan teknologi, kepanikan santri masih terarahkan. Mereka mulai terbuka pikirannya untuk googling terkait bagaimana pencegahan corona, apa saja yang harus diwaspadai, dan sebagainya. Sehingga banyak dari ka...

Amor Por 7000 - Rumah Senja | Tuhfatul Athal

Aku Seno, remaja yang tinggal di pinggiran kota Maju. Hari ini masih musim hujan. Semalam, di ruang makan sekeluarga besar bertepuk tangan gembira sekejap setelah aku meniup dua lilin berbentuk angka empat belas. Bagiku, ini hari baru yang ku paksa seolah-olah indah dan baik-baik saja. Tidak ada sekolah juga tidak ada liburan. Musim hujan yang menyedihkan.  Pagi tadi mentari tidak terlalu bersemangat, aku pun begitu. Awan membentuk tirai tipis yang menyelubungi bumi telah menang dari matahari. Sekarang, aku sedang berjalan sendirian di alun-alun kota, entah ke mana dan untuk apa. Supaya tidak terlihat bodoh, aku pun berlari-lari kecil seolah-olah sedang jogging. inilah manusia selalu tidak ingin terlihat kacau dan bodoh di mata manusia lain. Di ujung jalan sana terlihat remaja berbondong-bondong memasuki suatu toko yang di dekor a la kekini-kinian. Mereka berlarian lalu berdesak-desakan, beberapa di antara mereka terlihat sepantaran denganku, aku pun mencoba mendekati k...

Dunia Kenyamanan

Iga duduk di dunianya, bersila menghadap hamparan birunya laut dimana  angin timur berhembus. Ia sibuk memencet-mencet tombol gameboard jadulnya. Jadul, tapi tetap mengasyikkan. Perempuan, tapi gamers handal. Enil dari dunianya, laki-laki dingin. Sering berkunjung ke pantai itu, namun kali ini ia berani sekali mengganggu Iga. Ditariknya gameboard Iga, lantas berlari ke dalam gulungan ombak. "Sial! Kembalikan gameboard ku," teriak Iga sambil lari. "Sini, ambil kalau bisa," Enil mengejek seolah tak terkejar. Jauh berlari. Tanpa tersadar, Enil telah memasuki batas wilayahnya kembali, diikuti Iga, karena ia harus mengambil gameboard nya sebelum petang, lalu pulang. Apapun yang terjadi. Sedang-sedang Iga mengejar, langkahnya terhenti, lalu tersadar bahwa itu bukan lagi dunianya, itu dunia lain. Tapi dunia itu indah sekali, lebih indah dari dunianya. Namun, ia tak boleh lama-lama terkagum, itu dunia lain dan ia harus mendapatkan gameboardnya. Ia terkagum-ka...